Archive for June, 2006

Tidak Terlalu Buram

Wednesday, June 28th, 2006

Haduh…haduh…haduh…heran sayah! Kok bisa ya ada orang sakit jiwa kaya gitu. Tapi sayah juga gak mau terlalu ambil pusing sih. Masih banyak hal yang lebih layak untuk dipikirkan daripada harus menghabiskan tenaga untuk meladeni hal gak mutu begini.

Ya, benar! Untuk saat ini memang sayah sedang tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang sama sekali gak mutu kaya yang terjadi kemarin. Sebenernya sayah sudah tidak mau lagi jadi orang yang high-temper. Apalagi melakukan hal bodoh seperti itu. Ada sedikit benar juga sih yang dia katakan kemarin, bahwa sayah kampungan, tapi menurut sayah itu hanya sedikit ada dalam diri saya. Kalau kemarin dia kena imbas dari sikap kampungan sayah, itu karena dia sendiri yang memancing sisi kampungan dari diri sayah. Satu tamparan yang sama sekali tidak membuat sayah puas, karena dia sempat membalasnya. Dan hari ini sayah benar-benar pengen melenyapkan dia dari muka bumi. Ingin sekali sayah merobek mulutnya sampai batas telinga, mencolok kedua matanya sampai copot ke tanah, dan menarik rambutnya sampai otaknya keliatan. Tapi itu tidak sayah lakukan, karena sayah sendiri takut masuk penjara…wakakakaka…cuih…! Tapi bener deh, serius, seharian ini sayah mencoba untuk menenangkan hati sayah agar tidak terpancing amarah dan melakukan itu semua. Alhamdulillah saya berhasil.

Sekarang sayah duduk lagi di depan kompi lemot tercinta ini. Dan sayah sudah mulai bisa berpikir jernih. Bisa tertawa, walau hati menangis *halah*….wakakaka…! Bagi sayah hari ini tidak terlalu buram seperti kemarin. Sayah gak mau menghabiskan tenaga dengan memikirkan hal yang gak mutu. Apalagi sekarang ini ada Aay *sayang* yang udah dua hari ini nemenin sayah walo gak sepenuhnya untuk bersama sayah. Yang pasti sayah sangat senang bisa ada dekat dia. Dan satu lagi hal yang membuat hari ini tidak terlalu buram, dimana sayah menerima kenyataan bahwa posisi kerja yang sayah bayangkan ternyata jauh dibawah posisi kerja yang benar-benar diberikan pada sayah. Ini sangat sesuai dengan yang sayah inginkan. Duduk di belakang kompi, memainkan jari di tuts keyboard PC bermonitor flat, dan menguji ketelitian sayah memasukkan angka-angka seperti yang sering sayah lakukan pada jaman dahulu kala *halah*. Terimakasih SS. Dan yang harus sayah lakukan saat ini, gimana sayah bisa memenuhi kepuasan konsumen dan perusahaan, sehingga mereka bisa ngliat bahwa sayah punya loyalitas yang baik terhadap pekerjaan sayah.

Haduh…haduh…haduh…plis de! Kenapa sayah jadi sok keren gini ya. Tapi yasudala tak apa…
Thanks bwt yang dah baca blog sayah dan meninggalkan jejak di sini…Kalo sempet buka juga cerita kehidupan sayah yang mungkin serupa dengan yang udah kamu baca di sini. Tapi mungkin kamu bakal lebih enjoy dengan display yang sayah sajikan di sana *cuih…tetep sok keren*. Hehehehehehe…
Luv ya all….mmmuuuaaccchhh…

Nana Jadi “Cewe”

Sunday, June 25th, 2006

Hari pertama sayah dengan mini skirt dan high heels. Rasanya sangat berat melangkahkan kaki keluar rumah dengan tampang seperti sekarang ini. Sayah sendiri serem ngliat di cermin. Sayah jadi gak kenal siapa bayangan di depan sayah itu. Kalau itu cermin berarti di depan sayah ya pastilah sayah sendiri, tapi rasanya yang sayah pandang sedari tadi itu sama sekali bukan sayah.

Hahahahahaha…Bener-bener kaya orang bego dah sayah saat ini. Dan sayah sangat berharap semoga ini gak lama. Semoga ini cuman jadi persinggahan sementara mimpi sayah, dan jadi batu lompatan untuk sayah bisa meraih yang lebih tinggi dari sekarang. Amin….

Oks dey, sepertinya sayah harus beranjak dari kompi lemot kesayangan penghuni rumah ini. Dan inilah saatnya untuk maju.

Fi9Ht N4nA…!!!KaRna HaRi iNi tErLaLu iNdaH unTuK diBuRamKan…

Putih…Putih…

Saturday, June 24th, 2006

Ga pernah sayah berkeinginan pergi ke tempat putih itu, melihat banyak orang berbaju putih, dengan aroma yang sangat menyengat dan bikin pening. Ga pernah juga sayah berkeinginan bersentuhan dengan benda kecil yang menyakitkan, yang katanya cuman berasa kaya digigit semut, padahal rasanya ga abis dalam sehari.

Semoga ini jadi pengalaman pertama dan terakhir sayah pergi ke tempat yang benar-benar bikin jantung sayah serasa mau copot. Yah…walopun gak mungkin seh sebenernya ini bakal jadi pengalaman terakhir. Karna dalam waktu dekat ini sayah juga harus lebih sering ke tempat seperti itu, mungkin. Fuih…menakutkan!

Tempat yang selama ini sayah benci itu kini harus jadi kunjungan rutin sayah. Juga segala peralatan yang menyeramkan serta aroma yang memuakkan itu mau ga mau harus juga jadi konsumsi rutin sayah. Pasrah saja, itu satu-satunya pilihan. Toh ini semua juga demi kebaikan.

Yang pasti, HIDUP INI TERLALU INDAH UNTUK DIBURAMKAN…

Air Itu Tetap Mengalir

Monday, June 19th, 2006

Air itu mengalir tenang mengikuti kemana arus membawanya. Sesekali menderas, dan kembali tenang lagi. Dia berangkat dari dermaga lepas tanpa siapapun menunjukkan arah kemana dia harus pergi. Sudahlah dia hanya berpasrah menerawang kemana kira-kira dia akan pergi, pelabuhan mana yang bakal jadi persinggahan terakhirnya. Dia hanya diam sambil mengamati sekitarnya, mencoba menghindari kerikil sampai batu besar yang menjadi penghalang, walaupun terkadang tak terelakkan.

Suatu saat dia harus bisa melewati celah-celah kecil dengan penuh perjuangan. Dan disaat yang lain dia diombang-ambing derasnya arus yang membuatnya kehilangan arah. Dan disaat arus mulai tenang, kembali dia mengatur nafas dan mencari arah yang benar, lalu kembali mengalir, masih belum tau dimana dia akan berakhir. Dia hanya berfikir bahwa dia bisa, dia kuat, dan dia adalah yang pertama yang akan mencapai pelabuhan terakhir itu.

Tapi yang terjadi sekarang, dia tak lagi bisa menguasai diri. Dia tak lagi mengalir sebagai dirinya sendiri. Dia ikut larut dalam alirannya, semakin larut, sampai-sampai dia tak bisa lagi berpikir mana arah yang benar dan mana yang salah. Dia seolah disetir, tak bisa menguasai diri, pasrah ikut kemanapun aliran itu pergi, dan semakin tidak taulah dia dimana pelabuhan terakhirnya.

Namun pada akhirnya pun dia tersadar bahwa pelabuhan terakhir itu tak mungkin dia temukan. Yang ada hanyalah bahwa dia harus tetap mengalir namun menahan diri agar tak semakin larut dalam aliran itu. Aliran yang telah membawanya ke sebuah lautan yang dinamakan lautan cinta. Ya, dia telah larut dalam lautan cinta, namun dia coba mempertahankan segala yang tersisa dari dirinya agar tak ikut larut sekalian. Agar dia masih bisa mengalir sebagai dirinya sendiri, walaupun tak sepenuhnya manjadi dirinya sendiri.

Selamat Pagi Dunia

Monday, June 19th, 2006

Kenapa pagi ini sayah sama sekali gak bisa berkata-kata ya? Sayah bingung harus bilang apa. Sementara di benak sayah berkecamuk berbagai hal yang sebenernya pengen sayah utarakan. Tapi entah kenapa sayah gak bisa, gak tau harus mulai dari mana.

Semalaman sayah sangat resah, entah ada apa sayah gak tau. Gak ada berentinya sayah mikirin kekasih sayah, takut kalo-kalo sesuatu terjadi sama dia. Meskipun sayah sering dibuatnya naik darah, tapi sayah tetep sayang dan kuatir sama dia. Dia satu-satunya yang sayah punya di sini dan saat ini. Jadi wajar saja kalo sayah begitu oper-protektet dan sangat posesip. Sampai sepagi ini sayah belum juga ingin memejamkan mata. Sayah kangen banget sama dia. Apa dia juga kengen ya sama sayah? Ah sayah gak tau. Yang penting dia pulang dengan selamat aja, sayah sudah bersyukur.

Apa lagi ya yang membuat sayah resah hari ini? Oia, sayah inget adek sayah terus. Sayah sedih banget karna sayah gak bisa nepatin janji bakal bawa dia bersama sayah taun ini. Sayah sedih waktu denger kalo dia gak bisa nglanjutin sekolahnya. Padahal itu seharusnya jadi tanggung jawab sayah. Karna waktu itu sayah udah janji bakal penuhin segala kebutuhannya, dan bikin dia bahagia hidup bersama sayah. Kapan ya sayah bisa nepatin janji itu? Ngliat kondisi sayah sekarang ini, rasanya jauh itu semua. Mungkin nanti kalo sayah udah jadi direktur atau pengusaha, baru sayah bisa nepatin janji sayah. Hahaha… Tapi sayah bakal tetep usahakan supaya dia bisa sekolah setinggi mungkin, supaya nasibnya gak kaya sayah.

Satu lagi yang jadi pikiran sayah. Mamah! Sayah sedih karna gak bisa bantu mamah dalam keadaan mama yang seperti sekarang ini. Ya, sayah tau kalo roda hidup itu berputar, gak selamanya orang yang enak bisa enak terus, ada saatnya dia harus ngrasain susahnya hidup kan. Tapi yang sayah sesalkan, kenapa semua terjadi bersamaan. Saat sayah sendiri sedang menghadapi masalah yang lumayan pelik, dateng juga cobaan yang menimpa mamah dan keluarga sayah jauh di sana. Sekarang ini sayah cuman bisa berdoa, berharap agar badai ini cepet berlalu.

Nah, yang satu ini sebenernya gak jadi pikiran seh, hanya saja sayah pengen membahasnya di sini.
Pagi ini sayah buka YM dan ada offline message di sana. Ya, bagi yang merasa mengirim offline message itu, sayah bener-bener gak ngerti maksutnya. Kenapa kamu harus minta maap sama sayah? Apa kamu ngrasa pernah punya salah sama sayah? Tapi yasudahlah, apapun itu, sayah maafkan kamu. Dan juga makasih atas doanya, semoga doa itu dari lubuk hati yang paling dalam, supaya doa itu bener-bener bisa terjadi. Amin.

Yang terakhir, sayah heran sama diri sayah sendiri. Kenapa ya sekarang sayh jadi sok melow gitu. Ya, walopun sayah tergolong kategori melankolis sempurna, tapi apa yang sayah alami saat ini bener-bener gak sepeti sayah yang dulu. Sungguh, sayah sendiri ngrasa kesiksa sama kenyataan bahwa sayah jadi melow. Jadi gak cuman dia ajah yang aneh ngliat sayah jadi kaya gini, saya sendiri juga heran kok. Jadi ya, buat sayangku, jangan marah-marah terus ya. Harap maklum adanya. Makasih.

Buset dah!!! Tadi bilangnya gak bisa berkata-kata, tapi kok… :-??
Weheheheheheeee….

Well…selamat pagi dunia…inget loh…HARI INI TERLALU INDAH UNTUK DIBURAMKAN…!!!

Mommy said…

Sunday, June 18th, 2006

“Mama tau persis dalam keadaan seperti ini kamu pasti males, selalu pengen nyantai. Tapi kamu jangan gitu ya nak. Kamu harus bisa berusaha menepis rasa itu. Karna kamu sendirian di sana.

Mama tau persis dalam keadaan seperti ini kamu harus penuh kasih sayang. Mama sayang kamu nak, kamu harus bisa ya meskipun kamu gak dapet kasih sayang dari orang tua dan dia. Mama ngerti banget perasaanmu.

Mama tau persis kalo kamu anak yang baik. Pasti ada orang yang baik hati mau menolongmu. Yang sabar ya nak.

Inget nak, kamu ini anaknya orang gak punya, jangan nglakuin suatu hal bodoh sekali lagi. Kamu gak akan bisa ngapa-ngapain kalo kamu gak punya uang. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah kerja supaya bisa dapet uang, meskipun sebenernya mama gak mau kamu kerja dalam keadaan seperti ini, tapi ini harus nak. Mama tau kamu pasti bisa mengatasi semua ini sendirian. Mama hanya bisa mendoakan saja agar kamu kuat.

Inget nak, mama sayang kamu. Mama ingin ada di sampingmu saat ini.”

Then…she cry…sad so deep…she loves me much…

Semua ini salah sayah. Sayah sendiri yang mengambil keputusan, sayah sendiri yang memilih. Kalau toh akhirnya pilihan sayah salah, sayah sudah harus siap menanggung semua resiko yang menanti di depan sana.

Makasih mama sudah sedikit menguatkan hati dan kaki sayah untuk melangkah terus ke depan. Makasih mama untuk doa dan dukungannya. Maafkan sayah karena telah mengecewakan mama dan mengingkari janji sayah. Suatu saat nanti sayah pasti bisa menebus semua ini. Suatu saat nanti adek sayah harus sekolah setinggi mungkin agar tidak sebodoh sayah, agar bisa jadi yang terbaik dalam setiap langkah kakinya.

Saat ini sayah sudah agak lega. Jadi sayah akan berusaha menekan rasa sakit dan air mata itu.

Then…i smile…

Rahasia-Mu

Friday, June 16th, 2006

Ya Allah Yang Maha Segalanya, apakah maksud Engkau mempertemukan sayah dengan seorang pria baik hati dan tidak sombong itu, dan membuat sayah larut dalam nuansa cinta bersamanya, sehingga sayah tak lagi bisa mengalir sebagai diri sayah sendiri karena jiwa dan raga sayah sudah melebur dalam lautan cinta itu?

Ya Allah Yang Maha Baik, sayah yakin Engkau pasti sedang merenda karya agung untuk perjalanan hidup sayah. Kapankah saatnya saya bisa melihat pelangi itu ya Allah? Karena rasanya sayah sudah semakin lelah menunggu tibanya saat itu. Semakin sayah bersabar, serasa semakin dahsyat pula cobaan yang Engkau berikan.

Ya Allah Yang Maha Tau, sayah benar-benar tidak mengerti dengan semua yang sedang sayah alami saat-saat ini. Sayah sungguh-sungguh ingin tau akhir dari cerita bersambung perjalanan hidup sayah. Sayah sangat letih ya Allah.

Ya Allah Yang Maha Bisa, sayah ingin Engkau mengampuni semua dosa dan kesalahan sayah, dan menuntaskan segala rancangan-Mu untuk sayah. Bisa tidak ya Allah kalau sayah minta supaya Engkau menyudahi saja semua permainan hidup sayah ini?

Ya Allah, jadikanlah sayah seperti embun pagi yang menyejukkan, agar sayah bisa menolong diri sayah sendiri, membasahi hati sayah yang sedang kering ini, dan menyegarkan pikiran sayah yang serasa semakin keruh. Jangan biarkan sayah semakin larut dan kehilangan diri sayah yang sebenar-benarnya. Angkat sayah dari lautan cinta ini sebelum sayah mati tenggelam.

Ya Allah Yang Maha Kasih, berikanlah pada pria baik hati dan tidak sombong itu rasa kasih agar dia tidak lagi hanya berpikir dengan otaknya, tetapi pula dengan hati yang penuh kasih.

AMIN…

Colors Cafe, 12 Juni 2006

Monday, June 12th, 2006

Colors Cafe…Segelas cola…Sepotong puding coklat…dan…Setangkai angrek cantik nan unik…

Kepalaku digetok supaya bangun tersadar. Bahwa wanita ingin dicintai dengan tutur lembut adalah benar. Bahwa wanita menangis untuk mengurangi beban yang menyesak di dada adalah benar. Bahwa wanita adalah penyejuk jiwa dan pelepas dahaga seorang pria adalah benar. Dan bahwa wanita harus tegar diterpa berbagai badai cobaan, tetap berdiri sekuat batu karang, bisa melewati rute perjalanan hidup dengan sabar dan sepenuh hati…itu adalah harus!

Tidak melihat kehidupan dari sisi sendiri saja. Kenyataannya di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih berat backpack-nya daripada kita, bahkan mereka juga harus membawa tas jinjing di tangan kanan dan kiri-nya. Misalkan tidak seorangpun menawarkan jasanya untuk membawakan dua tas jinjing itu, tapi pasti Allah masih memberi daya agar kita tetap bisa berdiri tegak dan melangkah maju membawa titipan-Nya dan beban itu.

Kalau orang lain saja bisa seperti itu, kenapa sayah tidak begitu. Yakin saja bahwa sayah pasti bisa membawa backpack sayah sampai garis finish. Yakin saja bahwa semua akan baik-baik saja. Tegar saja…yakin saja bahwa seorang pemimpin berjiwa besar lahir dari rahim seorang ibu yang tegar. Dan sayah ingin anak sayah menjadi seorang pemimpin yang berjiwa besar, paling tidak dia bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Terimakasih untuk malam ini…
Teruntuk seseorang yang telah menggetok kepala sayah itu, bahwa wanita bisa melakuakn hal besar…sayah mengucapkan banyak terimakasih…
Colors Cafe…Segalas cola…Sepotong puding coklat…dan…Setangkai angrek cantik nan unik
Terimakasih untuk malam ini…

am i realy a looser huh?

Friday, June 9th, 2006

SaYah biN9unG haRus BiLan9 aPaH?

ENTAHLAH…

Friday, June 2nd, 2006

Hari ini hari yang amat sangat menyedihkan bwat sayah. Sampai-sampai sayah ngga taw lagi gimana kudu mengekspresikan rasa sedih sayah itu. Terlalu berat rasanya semua kenyataan yang harus sayah saksikan hari ini. Sangat menyakitkan. Amat sangat menyakitkan.

Sementara sayah dengan sepenuh hati memberikan yang terbaik untuk satu-satunya orang yang sayah cintai di dunia ini, tapi apa yang sayah dapet dari itu semua? Jauh diluar dugaan… Mungkin kurang besar pengorbanan sayah selama ini untuk bisa bersama dia, sampai-sampai dia membuat sayah sesedih ini.

Semua salah saya. Dari awal mula memang sayah yang ngga bisa dibilangin baek-baek. Dia udah nglarang sayah nglakuin suatu hal yang sangat dia ngga suka, walau sebelumnya dia ngga pernah bilang kalo dia ngga suka, tapi sayah tetep aja nglakuinnya. Sayah sangka dia cukup mengerti dan tau betul kalo sayah ngga akan pernah sedikitpun, bahkan berniatpun, untuk mengkhianati dia. Tapi ternyata, dia sama sekali ngga mau tau semua penjelasan sayah. Dia buat sayah merasa bersalah besar banget sama dia.

Oke sayah minta maap kalo emang menurut dia sayah udah nyakitin dia banget. Tapi jangan dengan cara seperti ini ngbales sakit hati itu. Sayah sama sekali ngga kuat. Sayah ngga mau dihantui perasaan sedih seumur hidup sayah. Maapkan sayah kalo sayah memilih untuk mundur dan melihat dia bahagia dari kejauhan saja…